oleh

Pentingnya Membangun Pendidikan Karakter dan Kebangsaan

Dalam rangka membangun kembali karakter dan kecintaan terhadap bangsa dalam dunia pendidikan, Indonesia Approach Education (IA Education) menyelenggarakan Webinar Nasional yang bertemakan “Membangun Sinergitas Dunia Pendidikan Dalam Menumbuhkan Nilai-Nilai Karakter Dan Kebangsaan”.

Acara ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting pada hari Sabtu ( 17/07/2021 ) dan dihadiri oleh 186 peserta dan terus bertambah dari seluruh wilayah di Indonesia.

Dalam kegiatan ini dipandu oleh moderator yaitu Bapak Dr. Muhammad Akhir,M.Pd, dihadiri oleh ketua IA Education Pusat yaitu Bapak Muh Erwinto Imran, M.Pd.

Dengan narasumber Bapak Dr. Ahmad Zakiyuddin, S.IP., M.IKom sebagai Ketua Umum DPP PDRI/Dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNLA. Beliau penyampaikan materi dengan tema “Membangun Sinergitas Dunia Pendidikan Dalam Menumbuhkan Nilai-nilai Karakter dan Kebangsaan”.

Dalam pemaparannya, tujuan pendidikan yaitu menjadikan orang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki akhlak mulia. Serta hakikat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, namun sekarang ini pendidikan lebih mengarah sebagai modal bekerja kelak.

Akar permasalahan yang belum tercapai ini karena belum maksimalnya nilai-nilai pendidikan pada karakter. Adapun yang harus kita contoh dalam karakter itu adalah yang dimiliki para Nabi diantaranya sifatnya yaitu Sidik (selalu berkata benar/jujur), Amanat (dapat dipercaya), Tablig (selalu menyampaikan kebenaran dan tidak pernah disembunyikan), dan yang terakhir itu Fatonah (cerdas).

Penanaman pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memasukkan pendidikan karakter ke dalam semua mata pelajaran di sekolah
  • Membuat slogan-slogan atau yel-yel yang dapat menumbuhkan kebiasaan semua masyarakat sekolah untuk bertingkah laku yang baik
  • Membiasakan perlaku yang positif di kalangan warga sekolah, dan
  • Melakukan pemantauan secara kontinyu
  • Memberikan hadiah (reward) kepada siswa yang selalu berkarakter baik

Adapun closing statement yang beliau sampaikan “Membangun kesadarasan kolektif (bersama), jika tidak bisa merubah dunia maka setidaknya merubah Indonesia, jika tidak bisa Indonesia setidaknya provinsi,  kalau tidak satu provinsi setidaknya satu kota, kalau tidak bisa setidaknya satu rt/rw, dan kalau masih tidak bisa  minimal diri kita sendiri, kesadaran terhadap diri kita sendiri memberikan nilai lebih terhadap nilai-nilai karakter dan keTuhanan mulai dari diri kita sendiri”.

Adapun narasumber kedua adalah Bapak Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd sebagai Guru Besar FKIP Unismuh Makassar, Kepala SMP Lab School Unismuh Makassar, dan Sekretaris PW Muhammadiyah Sulsel.

Beliau menyampaikan materi tentang Sinegritas Menumbuhkan Karakter Berbangsa, mengambil kutipan dari Aristoteles “Apa yang terjadi pada masyarakat masa kini merupakan dampak dari pendidikan yang diperoleh kaum muda pada masa lampau” dan prespektif masa depan “kondisi suatu bangsa di masa depan tergantung pengalaman pendidikan yang diperoleh kamu muda masa kini”.

Peran penting bagi setiap negara adalah menata suatu negeri, ada 2 poin yang disampaikan, yang pertama sekolah bukan ruang sempit dan bukan pula ruang yang merampas hak anak yang sebagian potensi terhalangan oleh sejarah, yang kedua miniatur suatu masyarakat yang hidup secara dinamis dalam suasana harmonis.

Harapan pembangunan karakter menurut Yudi Latif yaitu mentalitas budaya kemandirian yang bisa dan berani berfikir, bersikap dan bertindak secara daulat, percaya diri dan mengaktuliasaikan potensi diri.

Mentalitas gotong royong yang dapat mengahargai perbedaan dan menemukan titik temu menghargai dan mengapresiasi orang lain, beliau juga mengutip dari Soekarno katanya “merumuskan pancasila akar dari budaya salah satunya ialah gotong royong.”

Ada juga bangunan pendidikan sutau banga yang harus menjadi pondasi nya ada 4 yaitu : keluarga, sekolah, masyarakat, dan masjid. Pendidikan karakter itu bukan hanya tanggung jawab mereka tetapi tanggung jawab kita semua.

Jadikan sekolah sebagai lembaga yang menyiapkan manusia-manusia masa depan yang memahami diri dan lingkungan, memahami tugas dan tanggung jawab kekhalifahannya, hindarkan pendidikan yang menyiapkan manusia-manusia robot yang mampu bergerak ketika diremote. Jauhkan sekolah kita dari pendidikan yang tidak memanusiakan.

Bangun pendidikan nasional yang memanusiakan, membudayakan, dan mengindonesiakan untuk lahirnya anak bangsa yang beradab, berdualat, dan merdeka.

Closing statement dari beliau “Ucapan terimakasih terhadap IA Education dan bisa terus mengadakan acara seperti ini untuk dilaksanakan, pendidikan karakter menjadi pendidikan kita dan tidak cukup hanya teori tetapi harus dengan implementasi.”

Selain kedua narasumber yang materinya luar bisa dan sangat penting sekali, ada juga keynote speaker yaitu Dr. H. Ahmad Doli Kurnia Tandjung, S.Si. M.T. Ketua Komisi II DPR RI.

Beliau menyampaikan 3 poin pengantar yaitu yang pertama pendidikan bukan hanya sekadar sarana mentransmisikan pengetahuan dari guru/dosen kepada peserta didik. Namun juga mencangkup proses penanaman nilai, kerja sama, serta kompetensi yang berujung pada tumbuhnya nilai karakter dan nilai kebangsaan pada perserta didik.

Yang kedua harus membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.

 Yang ketiga Upaya menumbuhkan nilai karakter dan kebangsaan, harus dimulai dengan menjadikan Pancasila sebagai core values dalam pendidikan karakter.

Situasi kebangsaan Indeks Ketahanan Nasional yang disusun Labkurtannas, Lembaga Ketahanan Nasional, mengindikasikan melemahnya ketahanan ideologi dan politik dalam kurun waktu (2010-2016). Indeks ketahanan ideologi (meliputi variabel toleransi, kesederajatan dalam hukum, kesamaan hak kehidupan sosial, dan persatuan bangsa), cenderung terus merosot dari skor 2,31 (pada 2010) menjadi 2,06 (pada 2016).

Situasi kebangsaan Gambaran yang sama diperlihatkan oleh hasil Survei Nilai-Nilai Kebangsaan (SNK) oleh BPS 2015 (survei pertama kali di Indonesia). Dari setiap 100 orang Indonesia, 18 orang bahkan tidak tau judul lagu kebangsaan Republik Indonesia; 53% orang Indonesia tidak hafal seluruhnya lirik lagu kebangsaan; 24 dari setiap 100 orang Indonesia tidak hafal sila-sila Pancasila; 42 persen orang Indonesia terbiasa menggunakan barang bajakan; 55 persen orang Indonesia jarang bahkan tidak pernah ikut kerja bakti.

Pendidikan dan nilai karakter kebangsaan yaitu fungsi pendidikan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi harus didasari pendidikan nilai dan karakter sebagai modal sosial dan modal moral. Aristoteles mengingatkan, “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali”.

Harus dilakukan revitalisasi pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian dari pendidikan nilai kebangsaan yang diajarkan mulai dari sekolah dasar, Penggunaan media-media populer seperti film dan musik yang dapat disaksikan peserta didik di rumah, dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan keyakinan akan kehebatan nilai-nilai kebangsaan dan kewargaan. Contoh paling nyata adalah upaya yang dilakukan di Amerika Serikat. Film-film superhero seperti Captain Amerika, Superman, Batman Spiderman, Antman dan lain-lain berhasil meyakinkan anak-anak di negara tersebut bahkan jutaan anak-anak di negara-negara lain akan kehebatan dan kepahlawanan Amerika Serikat

Beliau mengungkapkan pendidikan bukan hanya teknis belajar tetapi harus juga diisi dengan pembangunan karakter, Belajar dari dunia maju contoh jepang pada saatporak poranda hancur yang pertama dilakukan belajar di luar lalu kembali ke negaranya, ingat kepada kebangsaannya.

Membangun nilai pendidikan yang netral agar tidak menjadi kepentingan negara atau kekuasaan. Kita harus sadar kalau film yang kita tonton merupakan bagian misi mereka menjadi memperkenalkan nilai kebangsaan dan kebudaayan secara mendunia seperti Bollywood, Hollywood, dan korea. Ujar beliau

Pertanyaan dari salah satu peserta Drs. Sultoni.M.Pd, sebenarnya apa sih yang menjadi akar permasalahannya mengapa pendidikan di Indonesia dalam konteks pendidikan itu cenderung mandul tidak menyerap oleh mayoritas bangsa kita? sebenarnya apa yang terjadi sehingga harus munsul pendidikan karakter itu?

Jawaban dari pemateri ke-2 kita yaitu Bapak Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd, indikatornya tidak satu tetapi sangat kompleks, regulasi sudah bagus kebanyakan  sudah bagus tapi tidak berjalan dengan baik, regulasi atau kebijakan sudah dikeluarkan lalu implemantasi nya sudah berjalan namun belum selesai tapi langsung diganti dengan kebijakan lain, harusnya melakukan dulu evaluasi, pendidikan butuh politik tapi jangan jadi politisir.

Pertanyaan ke-2 pendidikan karakter di Indonesia penting dan harus ada? Tentu harus ada karena penting, akar dan filosopinya dari pancasila dan bineka tunggal ika. Karakter itu bukan teori tetapi implemantasi yang butuh keteladan dari guru, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Adapun tambahan dari Bapak Ahmad Zakiyuddin yaitu ada persoalan dari kebijakan dan implementasi kebijakan sudah bagus, UUD bagus tapi dalam implementasi kadang tidak dilaksanakan nah ini permasalahan besar kita harus singkronisasi antara pelaksanaan.

Kesimpulannya adalah pendidikan tidak menyerap karena memang secara konsepnya pendidikan adalah tanggung jawab semua, sinergitas nya belum singkron.

Sehingga solusinya agar kita dapat bersingeri ialah kembali pada inti pendidikan yaitu karakter dan dapat meningkatakan ketakwaan dan keimanan.

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam memilih kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed